Hai.
Hallo.
Kau masih disana?
Atau sudah pergi?
Atau kau memang tidak pernah disana?
Hehe.
Tak tahulah.
Toh memang kau tak bisa kulihat.
Aku berdiri tegap menghadap utara.
Kau menghadap sesukamu saja.
Ku usahakan agar bisa sesekali menengok.
Memastikan keberadaanmu.
Tak pula dapat kulihat wujudmu.
Sudah lah.
Terserah kau saja.
Aku harus kembali menghadap utara.
Takut-takut tertangkap Sang Pemberi Komando bahwa aku mencuri lihat.
Bagaimanapun juga aku harus mengikuti barisan.
31.08.2016
I'm not an ordinary girl. Gue ngebuat diri gue sendiri saaangaaat special. And maybe gue juga ngebuat orang2 disekitar gue jadi special. AAMIIN. Keep smiling and treat your parents well!! Hehehe :D
Total Tayangan Halaman
Selasa, 30 Agustus 2016
Selasa, 23 Agustus 2016
knock knock story
Knock!
Knock!
Who's there?
It'me!
Who you?
Me!
Who!?
Just open this door!
I. A.
24.8.2016
Knock!
Who's there?
It'me!
Who you?
Me!
Who!?
Just open this door!
Lucu ya. Kadang kita harus, mau gak mau, buka "pintu" duluan ke orang kita belum tau siapa. Hanya untuk mengetahui identitas seseorang itu. Agar dapat terjalinnya suatu koneksi antar manusia. Baik dalam jangka panjang atau jangka sekedar satu sampai 2 menit. Karena tidak semua orang dapat dengan gamblang menyebarkan identitasnya dengan orang yang baru dia kenal. Kemungkinan lain, orang tersebut memang tidak ingin mempromosikan "mukanya" kepada khalayak ramai. Sangat berkebalikan dengan pesan orang tua kepada anaknya. Umumnya para orang tua sering berkata, " nak, kalo ada orang gak dikenal jangan dibukain pintu ya..". Ah sudahlah, aku sudah cukup dewasa kiranya untuk masalah ini. Aku dapat memilih dan memilah kepada siapa saja aku mengetuk pintu dan tidak.
Bosan aku dengan penat dan enyah saja kau pekat. Begitu yang Cinta nyanyikan diatas panggung sandiwara. Tengiang saja sajak itu di otakku. Tidak lupa pun dengan nada nyanyiannya. Rangga mati. Tak jelas dikubur dimana. Memori otak ini juga tak ingin menyimpan ingatan tentang Rangga. Drama romantika masa lalu memang sangat lekat, ya. Tiap-tiap insan manusia memiliki ceritanya sendiri. Unik. Sungguh luar biasa skenario ciptaan-Nya. Tak luput dalam cerita barang sehelai daun jatuh. Begitu detil. Begitu artistik. Hanya sayangnya kita masih sombong. Barang 1-2 kali dipuji membuat cerita, congkak sudah. Memalukan kiranya.
Ada kata-kata dasyat yang ku dengar dari teman yang tidak sengaja melihat bagian belakang mobil pick up. Kurang lebih seperti ini kata-katanya :
"Tidak ada kesempurnaan di dunia ini.
Dan contoh paling sempurna yang hakiki adalah saya."
I. A.
24.8.2016
Jumat, 12 Agustus 2016
Ngantuk
Tak bisa tidur. Mungkin tepatnya tak mau tidur. Sudah terlanjur terbiasa dengan terjaga pada malam hari. Walaupun hari ini hampir habis, aku masih pada kesadaranku. Tak menentu apa yang dipikirkan. Mungkin terlalu banyak. Atau mungkin malah tidak ada yang terpikirkan? Aku kasihan padamu tubuhku. Aku kasihan padamu mataku. Aku juga kasihan padamu pikiranku. Masih harus membantuku agar tetap terjaga. Tidak ada visi dan misi untuk hal yang satu ini. Bukan seperti organisasi yang bertebaran diluar sana. Hanya egoisme diri semata. Hanya memenuhi hawa nafsu saja. Malam ini pun terasa sedikit lebih pekat. Sepi. Kalong pun malas kurasa untuk keluar mencari makan. Yasudah, kucoba saja menjadwal aktivitas besok atau lusa. Memikirkan cara untuk kembali berinteraksi dengan sesama jenis manusia diluar sana. Dibalik pintu. Menunggu. Menunggu. Dan menunggu. Ah sebentar! Aku ingin bersosialisasi terlebih dahulu. Dengan manusia dari dunia maya. Walaupun hanya interaksi searah. Sebab aku hanya berkomentar disini, didalam pikiranku. Tak perlu lah kuutarakan isinya. Toh akan hilang dengan sendirinya karena tertutup pikiran baru lainnya. Membuka semua media sosial pada handphone. Membunuh waktu. Sambil mencari-cari posisi tidur yang enak. Kuharap mataku akan semakin sayu, kemudian terlelap. Tetapi, belum saat ini. Oh iya, aku juga lapar. Namun malas rasanya untuk mengambil makan. Kunikmati saja rasa lapar ini. Sekali-kali jangan manja, perut! Semakin kurasakan semuanya dalam berjalannya waktu. Semakin aku merasa hidup. Berpikir. Mengeluh. Bergerak. Berkedip. Bernapas. Aku mulai merasakan denyut nadi yang melewati pergelangan tanganku. Super cool! Aku hidup! Aku diciptakan! Sungguh suatu nikmat. Nikmat yang diberikan oleh suatu Dzat Yang Maha Esa. Terima kasih kepada-Mu. Memori malam ini akan kusimpan pada laci meja disudut pikiran ini.
13.08.2016
2:48
Langganan:
Komentar (Atom)